Dunia Informasi untuk anda

Apa Perbedaan Ancaman Militer dan Non Militer

Keutuhan suatu negara bisa dipengaruhi oleh berbagai ancaman, baik militer maupun non militer. Meskipun berbeda, kedua ancaman tersebut memiliki bahaya yang sama dan mampu menimbulkan gangguan yang mengancam keutuhan bangsa. Lalu, apa perbedaan ancaman militer dan non militer yang sebenarnya? Dan apa saja contohnya? Baca terus artikel berikut untuk mendapat jawabannya!

Pengertian Ancaman Militer

Sebelum lebih jauh membahas tentang pengertian ancaman militer, ada baiknya mengetahui perundang-undangan yang mengatur tentang pertahanan negara terlebih dahulu. Di Indonesia, pertahanan negara diatur dalam UU No. 3 Tahun 2002 dimana ancaman militer juga disebutkan. 

Apa Perbedaan Ancaman Militer dan Non Militer
Apa Perbedaan Ancaman Militer dan Non Militer

Adapun pengertian ancaman militer menurut undang-undang pertahanan negara tersebut adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisir secara langsung. Ancaman tersebut juga dinilai dapat membahayakan keamanan, keutuhan wilayah negara, kedaulatan negara, serta keselamatan segenap bangsa. 

Pada dasarnya, ada dua bentuk ancaman militer, yaitu ancaman militer agresi dan ancaman militer bukan agresi. Jika dilihat dari sebutannya, bisa diketahui bahwa ancaman militer agresi adalah ancaman dari negara lain dan melibatkan penggunaan senjata. Ancaman militer tersebut pada umumnya dilakukan dengan tujuan untuk melakukan pendudukan. Akibatnya, keutuhan wilayah, kedaulatan negara, dan keselamatan bangsa menjadi terancam.

Sementara itu, ancaman militer bukan agresi merujuk pada ancaman yang dilakukan oleh negara lain atau warga negara sendiri, baik dengan menggunakan senjata maupun tidak. Sama halnya dengan ancaman militer agresi, ancaman militer bukan agresi juga dinilai memiliki potensi untuk membahayakan keutuhan wilayah negara, kedaulatan negara, dan keselamatan segenap bangsa Indonesia. Pelanggaran wilayah oleh negara lain, spionase, sabotase, aksi teror bersenjata, gerakan separatis, pemberontakan bersenjata, perang saudara, konflik komunal, ancaman di laut atau udara, dan gerakan makar merupakan beberapa bentuk ancaman militer bukan agresi yang umum terjadi.

Baca Juga:  Jelaskan Pembentukan BPUPKI

Pengertian Ancaman Non Militer

Menurut Departemen Pertahanan Republik Indonesia, ancaman non militer adalah tindakan yang dapat mengancam keselamatan bangsa, keutuhan negara, dan kedaulatan negara secara tidak langsung. Meskipun begitu, ancaman non militer tetap dinilai berpotensi mengganggu stabilitas nasional dan keamanan bangsa. 

Tidak hanya dapat menghambat pembangunan, ancaman non militer juga dapat berkembang menjadi isu nasional yang kompleks. Pada akhirnya, kredibilitas pemerintah dan eksistensi bangsa berada dalam kondisi yang membahayakan. Ancaman non militer sendiri dapat berasal dari dalam maupun luar negeri dan bersifat tidak langsung dalam mengancam keutuhan negara, keselamatan segenap bangsa, dan kedaulatan negara. Beberapa ancaman non militer yang umum terjadi adalah ancaman dalam bentuk ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, informasi, legislasi, dan keselamatan umum. 

Perbedaan Ancaman Militer dan Non Militer

Telah disebutkan bahwa ancaman militer dan non militer memiliki potensi yang dapat membahayakan keutuhan bangsa, kedaulatan negara, dan keselamatan segenap bangsa. Kedua ancaman tersebut juga dapat berasal dari pihak asing maupun warga negara sendiri. Hal paling utama yang membedakan antara ancaman militer dan non militer adalah sifat ancamannya.

Pada ancaman militer, ancamannya cenderung bersifat langsung. Hal ini terutama terjadi pada ancaman militer agresi dimana ancaman dilakukan secara terorganisir dan melibatkan penggunaan senjata. Selain itu, ancaman militer juga bertujuan untuk menginvasi negara lain dan melakukan pendudukan. Adapun ancaman non militer bersifat tidak langsung. Alih-alih penggunaan senjata secara langsung, ancaman non militer pada umumnya dipengaruhi dimensi-dimensi tertentu seperti ideologi, ekonomi, politik, dan sosial budaya. 

Baca Juga:  10 Alasan Mengapa Kita Diwajibkan Untuk Menghormati Orang Tua Dan Guru

Contoh Ancaman Militer dan Non Militer

Segala bentuk ancaman terhadap negara, baik berupa ancaman militer maupun non militer dapat membahayakan kehidupan sebuah bangsa. Di Indonesia sendiri, ancaman-ancaman tersebut masih terus terjadi. Meskipun ancaman dalam bentuk agresi militer seperti yang dilakukan oleh Belanda sudah tidak ada sejak tahun 1948, ancaman-ancaman militer seperti pelanggaran wilayah masih bisa ditemukan hingga saat ini. Berikut adalah ancaman militer dan non militer yang pernah dan masih terjadi di Indonesia.

A. Ancaman Militer

1. Agresi

Setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia pernah mengalami dua kali agresi militer yang dilakukan oleh Belanda. Peristiwa itu sendiri disebut dengan Agresi Militer Belanda I dan II. Agresi Militer I yang terjadi pada 21 Juli 1947 adalah operasi militer yang dilakukan oleh Belanda agar dapat menjadikan Indonesia sebagai jajahannya kembali. 

Sementara itu, Agresi Militer Belanda 2 terjadi di Yogyakarta pada 20 Desember 1948. Yogyakarta pada waktu itu merupakan ibu kota negara. Serangan militer itu terjadi karena Belanda tidak puas dengan isi perjanjian Renville yang lebih banyak menguntungkan pihak Indonesia. 

2. Terorisme

Aksi teror bersenjata masih kerap terjadi di Indonesia dan hal itu sangat mengancam keselamatan segenap bangsa. Salah satu contoh peristiwa terorisme yang cukup menggemparkan terjadi di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pada 4 Desember 2011. Dalam peristiwa itu, sekelompok orang bersenjata melakukan penyerangan terhadap pekerja perkebunan yang tengah menonton TV bersama di Krueng Jawa, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara.

3. Pelanggaran Wilayah

Di Indonesia telah terjadi berbagai pelanggaran wilayah oleh negara lain. Salah satu contohnya adalah peristiwa Ambalat. Pada peristiwa pelanggaran wilayah itu, pesawat militer Malaysia memasuki wilayah udara perbatasan kedua negara di Blok Ambalat, Kalimantan tanpa ijin. Peristiwa tersebut memicu ketegangan antara Indonesia dan Malaysia karena dianggap dapat membahayakan keamanan negara.

B. Ancaman Non Militer

1. Dimensi Sosial Budaya

Ancaman non militer pada bidang sosial budaya di Indonesia dapat terjadi karena hal tersebut langsung berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat. Salah satu contohnya adalah munculnya gaya hidup westernisasi yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Gaya hidup westernisasi pada umumnya terjadi karena masyarakat meniru budaya barat tanpa melakukan seleksi lebih dulu; apakah gaya hidup tersebut sesuai dengan budaya bangsa atau tidak. Gaya hidup westernisasi ini tidak cocok karena berbenturan dengan nilai-nilai sosial, agama, dan norma yang dianut bangsa Indonesia. 

Baca Juga:  Bagaimana Cara Memanfaatkan Hewan Agar Keseimbangan Alam Tetap Terjaga

2. Dimensi Ideologi

Bidang ideologi di Indonesia juga tidak lepas dari ancaman non militer. Hal ini harus disikapi dengan hati-hati karena pembiaran dan kesalahan dalam penanganan dapat mengubah ideologi yang ada di Indonesia. Salah satu contoh ancaman non militer bidang ideologi adalah masuknya ideologi liberal di Indonesia yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Hal ini dapat menyebabkan disintegrasi bangsa yang pada akhirnya akan merobohkan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia.

3. Dimensi Ekonomi

Beberapa contoh ancaman non militer di bidang ekonomi diantaranya adalah adanya perdagangan bebas dan perekonomian Indonesia yang sebagian besar masih dikuasai oleh pihak asing. Perdagangan bebas yang terjadi di Indonesia menyebabkan negara menjadi rentan dengan penyelundupan barang-barang ilegal. Sementara itu, penguasaan ekonomi oleh pihak asing menyebabkan Indonesia hanya mendapatkan sedikit keuntungan dari usaha-usaha perekonomian yang dilakukan dengan pihak-pihak asing tersebut.  Selain itu, ancaman di bidang ekonomi ini juga terjadi akibat ketergantungan negara terhadap pihak asing. Ketergantungan ini bisa terjadi baik dalam sistem ekonomi itu sendiri maupun dalam hal perdagangan. Selain itu, ancaman ekonomi berupa inflasi juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada mekanisme pasar di dalam negeri.